Pilot Malaysia Tinggalkan Pesan Terakhir Untuk Ibunda Sebelum Kecelakaan Pesawat Terjadi

Pilot Malaysia Tinggalkan Pesan Terakhir Untuk Ibunda Sebelum Kecelakaan Pesawat Terjadi

Tragedi menghantam maskapai penerbangan Malaysia dengan keras. Langit biru di atas Bandara Internasional Langkawi menjadi saksi bisu saat pesawat baru saja terbang, namun nasib buruk menghampiri. Tidak jauh dari Bandara Sultan Abdul Aziz Shah, pesawat pribadi itu menghantam jalanan dan menelan korban jiwa. Suara mesin pesawat berganti menjadi dentuman mengerikan yang merobek kesunyian siang itu.

Kejadian tragis terjadi pada Kamis (17/8) lalu, ketika pesawat jet pribadi menabrak mobil dan sepeda motor di jalan tol Emina, Selangor, Malaysia. Sepuluh nyawa melayang dalam insiden mengerikan ini, termasuk nyawa pilot yang tangguh.

Sesaat sebelum malapetaka itu, sang pilot, Shahrul Kamal Roslan, meninggalkan pesan terakhir yang kini membekas dalam memori keluarga. Pesan singkat itu diucapkan dalam bahasa Melayu, tetapi maknanya mengiris hati ibunya.

“Adik Sayang Mama Sangat,” begitulah kalimat terakhir yang terpatri dalam pesan pilot kepada sang ibu.

Sang ibu, Mahanum, tak mampu menghapus kata-kata itu dari pikirannya. Kata-kata putranya terus bergema, mengisi keheningan di antara duka yang mendalam. Kenangan terakhir yang terjalin dengan Shahrul Kamal adalah saat sang ibu terbaring di rumah sakit, siap menjalani operasi. Belum ada yang tahu bahwa panggilan telepon tersebut akan menjadi momen perpisahan yang tak terlupakan.

“Dia adalah anak mama dan terakhir kali saya berbicara dengannya adalah ketika saya dirawat di rumah sakit (Tuanku Mizan Militer), sehari sebelum saya menjalani operasi … sebelum menutup telepon, dia mengatakan kepada saya bahwa dia mencintai saya,” kata Mahanum sambil menahan haru di luar departemen forensik Rumah Sakit Tengku Ampuan Rahimah di Klang, Selangor.

Rasa kehilangan yang mendalam kini menyelimuti keluarga yang ditinggalkan. Shahrul Kamal Roslan tak hanya seorang pilot, tetapi juga seorang suami dan ayah bagi empat orang putra yang masih berusia sangat muda, antara tiga hingga 12 tahun.

Ketika pesawat Beechcraft Model 390 (Premier 1) itu menghantam tanah pada pukul 14.40 waktu setempat, nyawa delapan penumpang di dalamnya juga terbang bersama angin. Di antara mereka adalah anggota dewan Pelangai, Johari Harun, yang juga menjadi korban dalam tragedi ini. Bersama dengan Johari, beberapa rekannya yang akrab, seperti Heikal Aras Abdul Azim, serta penumpang Azwan Jamaludin, Shaharul Amir Omar, Mohamad Naim Fawwaz Mohamed Muaidi, Muhammad Taufiq Mohd Zaki, dan Idris Abdol Talib Ramali, juga menemui ajal dalam perjalanan terakhir ini.

Langit biru di atas Bandara Internasional Langkawi dan Bandara Sultan Abdul Aziz Shah seakan merasakan duka yang mendalam. Mesin pesawat tak lagi bersuara, hanya hening yang tersisa. Kini, semua yang tinggal adalah kenangan dan tanya tanpa jawaban mengenai apa yang sebenarnya terjadi di langit Malaysia pada hari Kamis yang tragis itu.